Memperkuat Persatuan di Tengah Keberagaman : Kesbangpol Berau Siapkan Pagelaran Budaya Pancasila 2026

img

Rapat persiapan rencana kegiatan Pagelaran Budaya Pancasila 2026 yang berlangsung di Sekretariat Daerah Berau, pada Jumat (19/6/2026). (foto : sep/fn)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di tengah semakin beragamnya dinamika sosial masyarakat, Pemerintah Kabupaten Berau kembali memilih budaya sebagai jalan memperkuat persatuan. Melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) kini tengah mulai mematangkan pelaksanaan Pagelaran Budaya Pancasila Tahun 2026, sebuah agenda yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membawa misi besar menjaga kebersamaan di tengah keberagaman.

 

Persiapan kegiatan dibahas dalam rapat yang digelar di Ruang Rapat Kakaban, Sekretariat Daerah Berau, Jumat (19/6/2026). Seluruh unsur terkait dilibatkan untuk memastikan pelaksanaan yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni 2026 di Tepian Segah, Tanjung Redeb, dapat berjalan optimal.

 

Berbeda dengan agenda budaya yang identik dengan hiburan atau promosi pariwisata, pagelaran ini dirancang sebagai ruang kebangsaan tempat budaya hadir untuk mempertemukan identitas, memperkuat rasa memiliki, dan menumbuhkan semangat persatuan.

 

Sekretaris Badan Kesbangpol Berau, Aidil Fitri, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi pemerintah daerah bersama  Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menjaga harmoni sosial di Kabupaten Berau. Menurutnya, forum tersebut diisi oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang suku dan etnis yang memiliki peran penting dalam memperkuat semangat kebangsaan di tengah masyarakat.

 

“Di Kesbangpol ada yang namanya Pagelaran Budaya yang dilaksanakan bersama Forum Pembauran Kebangsaan. Forum ini merupakan mitra Pemerintah Kabupaten Berau yang beranggotakan tokoh-tokoh dari berbagai suku dan etnis. Tahun ini merupakan pelaksanaan yang kedua. Tahun lalu alhamdulillah berjalan sukses, dan mudah-mudahan tahun ini juga dapat berlangsung dengan lancar dan sukses,” ujarnya.

 

Tahun ini, Pagelaran Budaya Pancasila mengangkat tema: “Bersatu dalam Keberagaman, Melestarikan Budaya, Mengokohkan Pancasila di Bumi Batiwakkal.” Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah perkembangan zaman dan perubahan sosial yang cepat, pelestarian budaya dipandang sebagai salah satu cara menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat nilai dasar kehidupan berbangsa.

 

Aidil menjelaskan, melalui kegiatan ini pemerintah ingin menghadirkan ruang yang dapat mempererat hubungan antar masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, etnis, maupun budaya.

 

“Tujuan kegiatan ini adalah mengokohkan nilai-nilai Pancasila melalui pelestarian seni budaya yang sekaligus merekatkan tali persaudaraan antar suku dan etnis yang ada di Kabupaten Berau,” katanya.

 

Lebih dari itu, pagelaran tersebut diharapkan menjadi simbol bahwa keberagaman yang dimiliki Berau bukan menjadi batas pemisah, melainkan modal sosial yang harus terus dijaga dan dirawat bersama.

 

Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Berau, M. Hendratno, menilai keberadaan Forum Pembauran Kebangsaan selama ini telah memberi kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan daerah. Menurutnya, peran FPK bahkan telah mendapat perhatian hingga tingkat nasional karena dianggap berhasil membangun komunikasi dan pembauran antarkelompok masyarakat.

 

“FPK Berau bahkan sudah menjadi narasumber di berbagai kegiatan tingkat nasional. Sejak berdiri, forum ini mampu menjadi perekat antar suku dan menjaga suasana Kabupaten Berau tetap kondusif. Anggotanya merupakan tokoh adat dan tokoh suku yang bersama-sama menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat,” ungkapnya.

 

Hendratno menegaskan, penting dipahami bahwa Pagelaran Budaya Pancasila memiliki orientasi yang berbeda dibanding festival budaya yang diselenggarakan sektor pariwisata. Jika festival budaya lebih menonjolkan aspek atraksi dan kunjungan, maka kegiatan yang diinisiasi Kesbangpol ini menempatkan budaya sebagai instrumen memperkuat nasionalisme dan mempererat solidaritas sosial.

 

Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga harus menjadi sarana menanamkan nilai kebangsaan kepada generasi sekarang dan mendatang. Karena itu, pagelaran ini diharapkan menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa di Kabupaten Berau, keberagaman bukan sekadar realitas sosial, tetapi kekuatan yang terus dirawat melalui semangat “Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika’.

 

Saat budaya tampil di atas panggung, yang ingin ditunjukkan bukan hanya ragam tradisi yang dimiliki Berau, melainkan pesan yang lebih besar: bahwa persatuan dapat tumbuh ketika perbedaan diberi ruang untuk saling mengenal, menghargai, dan berjalan bersama.  (sep/FN)